Berburu Promo Kopi Agar Tetap Produktif

 

Disclaimer: Tulisan ini hanya merupakan opini dan pengalaman pribadi penulis. Konten ini tidak diendorse oleh pihak manapun.

Dokumentasi pribadi
Diedit via Canva. Ilustrasi oleh irasutoya

Berbicara mengenai kopi, haruskah kegiatan produktif ditemani dengan es kopi? Terkadang, hal ini cukup menggangguku. Bila aku melakukan kegiatan produktif di rumah, terkadang cukup sulit untuk fokus. Ada saja distraksi atau kadang suka mager untuk mengerjakan sesuatu, baik mengerjakan tugas akhirku, menjelajahi informasi lowongan pekerjaan, upgrade CV, ataupun kegiatan produktif lainnya. Hingga akhirnya aku jalan-jalan mencari toko kopi, kafe, atau mungkin mampir membeli kopi dan mencari public space yang memiliki koneksi internet. Tidak usah sampai cepet banget koneksinya, yang penting cukup untuk produktif dan menjelajahi internet ditemani dengan platform musik.

Pada awalnya, aku sendiri tidak suka dengan kopi. Tentu saja alasan utamanya karena rasanya pahit. Kemudian, aku perlahan mencoba kopi instan saset. Rasanya tidak sepahit yang kukira, meskipun kebanyakan kopi saset didominasi oleh gula dibanding kopi. Seiring berjalannya waktu, kopi menjadi ritual wajib sebelum dan saat produktif. Meskipun bukan kopi hitam, yang penting kopi. Namun, aku selalu dampingi dengan air putih agar tetap menjaga hidrasi.

Sudah berada dalam fase rasanya kalau belum ngopi, pasti ada yang kurang. Asupan kafein memberikan dorongan supaya dalam mode "tetap melek dan fokus".

Semakin kesini, kopi saset saja tidak cukup. Terkadang, aku meracik kopi sendiri dengan susu. Namun rasanya masih agak kurang. Aku bertanya kepada Aldo, kebetulan dia juga pernah bekerja sebagai barista. Dia sempat spill rekomendasi kopi dan susu yang digunakan. Iya sih, bisa bikin berkali-kali. namun ketika dipikir lagi rasanya lebih mahal untuk membeli bahan dibanding beli yang sudah jadi.

Seiring berjalan waktu, persaingan kedai kopi semakin brutal, harga juga perlahan naik, atau mungkin sudah tidak menyediakan promo lagi. Mulai dari pembukaan gerai yang masif, hingga menjemput pelanggan langsung ke jalanan melalui gerobak.

Namun, aku berusaha mencari jalan lain dalam mencari promo kopi agar tetap terasa produktif. Atau mungkin terjebak dalam perangkap produktivitas palsu.

Aku mungkin akan menjabarkan pengalaman kafe atau toko kopi yang aku kunjungi. Meskipun bukan yang mahal banget, mentok 20 ribuan. Kalau yang agak pricey, mungkin kalian bisa beri aku rekomendasi.

Kopi Kenangan


The classic one. Aku berburu promo melalui aplikasi pihak ketiga Qpon. Kalau tidak varian Kopi Kenangan Mantan, Spanish Latte. Disisi lain, aku menggunakan voucher mingguan dari akun Whatsapp Kopi Kenangan. Terkadang, kalau kepepet banget, aku mencari voucher redeem yang dijual melalui grup Facebook. Meskipun sangat rentan dengan penipuan.

Bean Spot


Biasanya, Bean Spot mengadakan promo Coffeeday yang diadakan setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Semua varian kopi menjadi 10 ribu rupiah saja. Cocok kalau ingin melakukan sesi produktif di public space. Aku biasanya pesan Salted Caramel Latte. Meskipun rasanya ya... menurutku bukan yang enak banget, setidaknya ada asupan kopi. Ada harga, ada rasa.

Star Cafe


Aku diberi rekomendasi oleh Jovan dan beberapa anggota server Discord Prasarana Perchunimai-an Bandung. Setiap bulan terdapat 2 voucher diskon 50% yang didapatkan melalui aplikasi Starry. Meskipun promo ini hanya berlaku untuk varian Kopi Susu Gula Aren dan Americano. Lumayan, Kopi Susu Gula Aren hanya 12,5 ribu saja. Setelah mendapatkan kopi, aku akan pindah memulai sesi produktifku di Sawarga Courtyard.

Fullmoon Coffee (Honorable Mention)


Pada beberapa waktu tertentu, Fullmoon Coffee mengadakan promosi 9.9. Beberapa varian kopi dijual dengan harga 9.9 ribu (total 11 ribu dengan pajak). Aku biasanya memesan Fullmoon Latte Signature. Untuk lokasi kafe, aku selalu pergi ke cabang Jendral Sudirman karena dekat dari rumah. Tempatnya juga cukup nyaman untuk WFC.

Alternatif Lain

Terkadang, aku mencari kopi gerobak di pinggir jalan kalau sedang melewati jalan tertentu. Mungkin, kalau aku sedang diam di rumah, aku selalu ditemani dengan Luwak White Coffee varian Tarik Malaka, kalau tidak GoodDay Duo, atau tidak GoodDay Butterscotch Latte.


Terkadang, aku tetap minum kopi tanpa harus ada promo terlebih dahulu. Kadang aku tidak minum sama sekali. Anehnya, produktivitas tidak selalu berubah, ia datang dan pergi kapanpun, yang berubah hanya perasaanku terhadap kebiasaan itu.

Mau bahas apa lagi?