| Dokumentasi pribadi |
Sebagai seseorang yang sudah menetap tinggal di Maleber selama 20 tahun lebih
| Dokumentasi pribadi |
Pada awalnya gerobak ini dirintis oleh Abah (orang-orang sekitar memanggilnya begitu), saya masih ingat dulu harganya dari Rp. 1000 dapat 4, kemudian Rp. 1000 dapat 3, hingga akhirnya saat ini Rp. 5000 dapat 8. Inflation hit hard, right? Dulu pada paragraf ini juga sudah belasan tahun yang lalu
Waktu aku kecil, aku selalu membeli batagor ini hanya kecap saja, tanpa bumbu kacang. Karena dulu belum kuat makan makanan pedas. Terkadang Abah suka iseng menambahkan bumbu kacang meskipun aku bawel bilang jangan pakai bumbu, tapi bisa diwajarkan, disisi lain antriannya bisa sangat ramai.
Hingga akhirnya pada waktu itu sempat terjadi kecelakaan yang melukai Abah, setelah lama istirahat tidak berjualan, pada akhirnya Abah meninggal dunia. Kemudian usaha ini diteruskan oleh anaknya. Meskipun kualitas bumbunya agak sedikit menurun jika dibandingkan dengan dahulu. Dulu bumbunya lebih pedas dan lebih kental, sekarang lebih encer dan kurang berasa pedasnya atau mungkin tingkat toleransi kepedasanku sudah bertambah?. Namun tetap enak kok. Kalau aku lebih suka batagor ini dimasak dengan sangat matang hingga kering.
Aku berniat membeli batagor ini karena ditandai oleh story Instagram temanku dengan caption "We called it Batagor Olen". Kupikir, sudah lama tidak jajan batagor Olen ini, jadi yasudah gaskan. Tentu saja, setelah tiba harus segera dikonsumsi secepatnya dan dipindahkan ke tempat lain. Kalau tidak, nanti kertasnya bolong dan rentan bocor.
| 5000 isi 8, dibungkus dengan kertas |
| Dokumentasi pribadi |
Pada awal tahun 2026, ternyata sudah mendukung pembayaran non-tunai berupa QRIS. Katanya juga kode-QRnya dibuatkan oleh orang lain.
Next time, mau jajan apalagi?