Akun Kedua, Perlukah?

Dibuat dari Coverview
Gambar oleh Camilo Jimenez


Akhir-akhir ini, aku mendapatkan permintaan following baru dari mutualku, terutama Instagram. Hampir dalam setiap bulan ada saja pengikut baru yang mengikuti akunku, tapi mayoritas yang mengikuti bukanlah akun utama (bisa saja akun kedua, atau mungkin lebih). Tak jarang, beberapa mutualku memiliki dua atau lebih akun sosial media hanya untuk membagi niche agar terlihat rapi, atau mungkin untuk keperluan yang tidak diinginkan seperti sambat, misuh-misuh, atau hanya sekedar stalking karena akun utamanya diblok karena suatu hal

Ya, hal ini menjadi dilema klasik di era modern internet dan bersosial media. Biasanya, hal ini terjadi karena adanya rasa kecemasan, rasa takut, dan/atau tekanan sosial dari berbagai kalangan tertentu. Beberapa orang juga terlihat ingin terlihat jaim (jaga image) di akun sosial medianya. Bisa juga karena sistem algoritma sosial media yang mengundang siapa saja untuk berkomentar.

Ada juga cerita dari temanku yang sedang mengambil studi magister, ketika ada kerabat atau orang yang cukup penting ingin bermutual namun agak kaget karena isi kontennya yang rupa-rupa warnanya. Jadi dia terpaksa membuat akun kedua.

Mungkin, cerita singkat dari temanku ini biasa disebut dengan context collapseContext collapse dimaknai sebagai fenomena interaksi sosial antara berbagai audiens yang saling berbeda latar belakang. Interaksi yang terbentuk berbeda karena tidak ada ruang temu tradisional (tatap muka). Alhasil ada tabrakan konteks yang tidak dapat terhindarkan.

Dalam kasusku, hal ini terjadi di akun utama Instagramku. Secara garis besar, akunku diikuti oleh keluarga, teman dekat, teman komunitas dan hobi yang terbagi menjadi pemain rhythm game dan cosplayer, atau mungkin mutual lain yang baru bertemu dan mengajak untuk saling terhubung. 

Lain hal jika ada keperluan yang mendesak, misalnya keperluan akun bisnis untuk berjualan, akun yang bertujuan untuk edukasi, atau mungkin portofolio seperti foto, gambar, atau video.

Di sisi lain, terciptanya masalah akun kedua ini menjadi pekerjaan tambahan untuk terus memantau banyak akun sosial media. Bisa saja fitur FYP yang kubenci ini menampilkan rekomendasi konten yang berbeda-beda pada setiap akunnya. Mau tidak mau harus sering keluar masuk akun dan menciptakan konten yang berbeda-beda demi mencapai target audiens yang diinginkan. Belum lagi, semuanya harus memulai lagi dari 0 (post, following dan followers). Untuk apa fungsi akun kedua ini setelah tidak digunakan lagi? Sepertinya hanya membuang-buang waktu saja. Jika hanya ingin sambat yang tidak penting, alangkah baiknya dipikir kembali apakah hal ini pantas untuk diposting di sosial media atau tidak?

Kita bisa saja memanfaatkan fitur yang sudah ada seperti close friend. Namun, aku tidak mudah percaya dengan beberapa close friend karena bisa saja bocor atau menjadi bahan gibahan. Aku juga sangat jarang untuk menunggah story dengan menggunakan filter close friendFlashback melihat kasus pemain maimai internasional seperti TRG

Mungkin, bisa saja aku akan membuat atau mengaktifkan akun kedua jika diperlukan, tetapi tidak dalam waktu dekat. Aku mungkin berencana untuk membuat akun formal, akun yang sudah terlanjur besar dibiarkan menjadi akun hobi. Tetapi, aku berpikir, akun utama saja udah ga terlalu diurus dan ngepost, apalagi kalau punya akun kedua? Ada sih akun cadangan yang udah berdebu banget buat emergency case kalo bot Jukiberg lagi tantrum

Kalau ingin ada yang berkomentar atau berpendapat, aku terbuka kok. Aku lebih senang untuk menerima pesan dan mengobrol langsung dibandingkan membuka kolom komentar disini.

Lebih lamaTerbaru