Kembali Migrasi Ke Analog


Dokumentasi pribadi

Aku kembali memantapkan niatku untuk kembali ke analog dengan membeli notebook untuk keperluan menulis jurnal dan terapi untuk memeperbaiki kesehatan mentalku, tak lupa juga untuk menghindari distraksi dari smartphone dan sosial media.

Biasanya, orang-orang membeli notebook ketika pergantian tahun dan pertengahan tahun. Tergantung juga mereka membagi siklusnya menjadi berapa lama. Ada yang setahun sekali, 6 bulan sekali, 4 bulan, atau 3 bulan sekali, bisa saja sehabisnya buku. Mungkin juga tergantung bagaimana ketebalan dan ukuran buku yang digunakan.

Tahun ini, mungkin aku akan sedikit bereksperimen. Bagaimana kalau aku memulai menulis dari notebook baru sejak bertambahnya usia atau di hari ulang tahunku?

Sebelumnya, aku sudah beberapa kali menulis jurnal. Kurang lebih, sudah ada 10 buku jurnal ukuran A5 yang kusimpan di rak kamarku. Aku terbiasa untuk melakukan bullet journaling dibandingkan journaling pada umumnya karena lebih pendek dan memakan waktu yang sebentar.

Senin lalu, aku mengunjungi toko alat tulis favoritku Toko Sinar Mega pusat di Cibeureum karena dekat dari rumah dan masih bisa diakses dengan berjalan kaki. Meskipun aku harus sedikit mengeluh karena ruang untuk jalan kaki disini sangat menghadeh.

Awalnya aku berniat untuk membeli notebook yang biasa aku beli seperti sebelumnya, Joyko NB-701 dengan isi halaman dotted atau titik-titik. Dikarenakan aku sudah terbiasa menggunakan varian ini, ditambah kalau untuk journalling lebih leluasa dibandingkan dengan isi halaman yang bergaris. Namun, ternyata varian tersebut sudah kosong dan hanya tersisa Joyko NB-663 dengan halaman yang ruled (bergaris) dan Joyko NB-702 dengan halaman grid (kotak-kotak). Sehingga aku pun kembali lagi ke rumah dengan tangan kosong.

Aku sempat melihat kembali gambar atau tampilan dari notebook Joyko NB-702 dengan halaman grid, seharusnya ketebalan garisnya tidak setebal yang kukira. Kemudian besoknya, aku pun segera membeli Joyko NB-702 karena stoknya yang terbatas. Ditambah, stok di toko offline maupun online sudah semakin menipis dan terdapat kenaikan harga yang cukup tinggi. Baik karena bahan kertas, biaya afiliasi dengan toko online, atau keadaan ekonomi yang belum membaik.

Aku juga sempat bertanya dengan salah satu staf disana, ternyata sisa notebook disana merupakan sisa stok terakhir ngabisin stok yang ada. Aku pun sempat mengobrol sebentar sekalian curhat kalau harga di toko online sudah mulai naik, kemudian ia juga membalas kalau kedepannya juga notebook ini akan mengalami kenaikan harga. Duh.

Mumpung disana, aku juga sekalian membeli pulpen gel untuk stok. Jadi, total belanjaanku genap 35 ribu Rupiah.

Dokumentasi pribadi

Semoga dengan notebook ini aku dapat memperbaiki hidup dengan perlahan. Selain itu, semoga aku dapat menyelesaikan buku ini. Untuk apa tujuannya, mungkin aku akan membahasnya nanti sambil berjalan.

Sepertinya kedepannya aku akan menceritakan pengalaman lama menulis jurnalku. Mulai dari mengenal dan membahas apa itu bullet journaling, melihat spread orang yang menarik, hingga burnout dan overspending ketika journaling.